Menyatukan 177 cara berpikir
memang tidaklah mudah. Kami datang dari background
kehidupan yang berbeda-beda. Jadi bukan hal yang aneh ketika terjadi perbedaan
pendapat ketika menghadapi sebuah masalah atau ketika diberi sebuah tugas. Yang
menjadi masalah bukanlah perbedaan-perbedaan di antara kami, karena menurut
saya, perbedaan itu adalah hal yang wajar. Namun ketika saya menjadi
penanggungjawab sebuah acara, saya merasa bahwa perbedaan-perbedaan itu bisa
merusak kami kapanpun. Setiap orang ingin berbicara. Setiap orang ingin berada
di depan. Semua orang ingin terlihat. Namun hanya segelintir yang benar-benar
melakukan apa yang mereka ucapkan. Ketika si juru bicara salah karena dianggap
terlalu aktif dan ketika si pendiam tetap merasa aman di posisi mereka tanpa
menyuarakan apa yang mereka inginkan. Saya kecewa. Seolah-olah saya sendiri di
sebuah tempat yang sangat ramai. Dan menurut saya, ini bukan pertama kalinya
mereka melakukannya. Menurut saya, sudah terlalu banyak ide-ide yang
dikemukakan namun berakhir dengan omongan belaka.
Saya sering mendapati diri saya
menangis akhir-akhir ini. Saya bertanya pada diri saya, sebenarnya apa ada yang
salah dengan diri saya? Menurut saya ini situasi yang sangat sulit bagi kami
semua. Menurut saya, mengapa ini semua terjadi adalah karena kurangnya rasa
percaya di antara kami semua. Meskipun ketika bertemu biasa saja, bertegur sapa
dan tersenyum, namun ketika mereka menulis, semua menjadi jelas. Banyak yang
membicarakan satu sama lain. Banyak yang mengeluh tentang yang lain. Tidak
salah sebenarnya, karena kami juga kurang tersedianya tempat untuk mengutarakan
pendapat. Dan ada ketika pendapat sudah diutarakan, pendapat-pendapat tersebut
cenderung tidak didengarkan dan dibiarkan saja. Mungkin itu yang membuat
teman-teman jadi malas berpendapat lagi.
Dengan adanya masalah-masalah mendasar
seperti itu, tentu saja jalannya acara ini menjadi terganggu. Di tambah lagi
dengan adanya acara-acara lain yang membuat kami tidak fokus pada acara ini dan
tidak maksimal ketika mengeksekusinya. Ada saja yang kurang, ada saja yang
belum dipersiapkan. Dan hasilnya, acara ini mengecewakan banyak orang, terutama
teman-teman yang menyempatkan waktunya untuk datang. Dan saya, sebagai
penanggungjawab, merasa sangat kecewa pada diri saya sendiri. Saya cukup
memiliki waktu namun saya tidak menggunakannya dengan bijaksana untuk
mempersiapkan acara ini.
Seiring dengan selesainya acara
yang saya bawahi, saya berpikir bahwa masalah ini telah selesai. Saya tidak
perlu menghadapi orang-orang itu dalam keadaan di bawah tekanan. Saya tidak
perlu menaikkan tekanan darah saya ketika saya berbicara atau meminta bantuan
mereka. Namun seperti biasa, semua tidak selalu berjalan seperti yang kita
inginkan. Hingga saat ini pun, saya tidak tahu bagaimana menyelesaikan
permasalahan ini. Karena menurut saya, ini bukan masalah saya pribadi yang
tidak perlu menyeret orang lain di dalamnya, namun ini adalah masalah kami, dan
kamilah yang harus menyelesaikan nya.
Menurut saya, kunci penyelesaian
masalah ini adalah mulai merubah diri sendiri dan beradapatasi untuk orang
lain. Belajar percaya orang lain, belajar mengerti sudut pandang dan cara
berpikir mereka, belajar mendengarkan, belajar bertanggungjawab atas apa yang
kita janjikan, dan belajar berkomitmen. Dimulai dari satu orang, dimulai dari
diri saya, untuk berubah dan menjadi lebih baik. Mungkin tidak dapat langsung
menyelesaikan masalah ini, namun bisa mengubah diri saya menjadi pribadi yang
dewasa dan lebih bijaksana dalam menanggapi suatu masalah. Dan ketika 176 orang
yang lainnya memutuskan hal yang sama, tak ada hal yang tak bisa kita lakukan.
"Friend is someone you can trust and admits you whatever you are"


0 comments:
Post a Comment