Tuesday, December 25, 2012

menurut saya.


Menyatukan 177 cara berpikir memang tidaklah mudah. Kami datang dari background kehidupan yang berbeda-beda. Jadi bukan hal yang aneh ketika terjadi perbedaan pendapat ketika menghadapi sebuah masalah atau ketika diberi sebuah tugas. Yang menjadi masalah bukanlah perbedaan-perbedaan di antara kami, karena menurut saya, perbedaan itu adalah hal yang wajar. Namun ketika saya menjadi penanggungjawab sebuah acara, saya merasa bahwa perbedaan-perbedaan itu bisa merusak kami kapanpun. Setiap orang ingin berbicara. Setiap orang ingin berada di depan. Semua orang ingin terlihat. Namun hanya segelintir yang benar-benar melakukan apa yang mereka ucapkan. Ketika si juru bicara salah karena dianggap terlalu aktif dan ketika si pendiam tetap merasa aman di posisi mereka tanpa menyuarakan apa yang mereka inginkan. Saya kecewa. Seolah-olah saya sendiri di sebuah tempat yang sangat ramai. Dan menurut saya, ini bukan pertama kalinya mereka melakukannya. Menurut saya, sudah terlalu banyak ide-ide yang dikemukakan namun berakhir dengan omongan belaka.
Saya sering mendapati diri saya menangis akhir-akhir ini. Saya bertanya pada diri saya, sebenarnya apa ada yang salah dengan diri saya? Menurut saya ini situasi yang sangat sulit bagi kami semua. Menurut saya, mengapa ini semua terjadi adalah karena kurangnya rasa percaya di antara kami semua. Meskipun ketika bertemu biasa saja, bertegur sapa dan tersenyum, namun ketika mereka menulis, semua menjadi jelas. Banyak yang membicarakan satu sama lain. Banyak yang mengeluh tentang yang lain. Tidak salah sebenarnya, karena kami juga kurang tersedianya tempat untuk mengutarakan pendapat. Dan ada ketika pendapat sudah diutarakan, pendapat-pendapat tersebut cenderung tidak didengarkan dan dibiarkan saja. Mungkin itu yang membuat teman-teman jadi malas berpendapat lagi.
Dengan adanya masalah-masalah mendasar seperti itu, tentu saja jalannya acara ini menjadi terganggu. Di tambah lagi dengan adanya acara-acara lain yang membuat kami tidak fokus pada acara ini dan tidak maksimal ketika mengeksekusinya. Ada saja yang kurang, ada saja yang belum dipersiapkan. Dan hasilnya, acara ini mengecewakan banyak orang, terutama teman-teman yang menyempatkan waktunya untuk datang. Dan saya, sebagai penanggungjawab, merasa sangat kecewa pada diri saya sendiri. Saya cukup memiliki waktu namun saya tidak menggunakannya dengan bijaksana untuk mempersiapkan acara ini.
Seiring dengan selesainya acara yang saya bawahi, saya berpikir bahwa masalah ini telah selesai. Saya tidak perlu menghadapi orang-orang itu dalam keadaan di bawah tekanan. Saya tidak perlu menaikkan tekanan darah saya ketika saya berbicara atau meminta bantuan mereka. Namun seperti biasa, semua tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan. Hingga saat ini pun, saya tidak tahu bagaimana menyelesaikan permasalahan ini. Karena menurut saya, ini bukan masalah saya pribadi yang tidak perlu menyeret orang lain di dalamnya, namun ini adalah masalah kami, dan kamilah yang harus menyelesaikan nya.
Menurut saya, kunci penyelesaian masalah ini adalah mulai merubah diri sendiri dan beradapatasi untuk orang lain. Belajar percaya orang lain, belajar mengerti sudut pandang dan cara berpikir mereka, belajar mendengarkan, belajar bertanggungjawab atas apa yang kita janjikan, dan belajar berkomitmen. Dimulai dari satu orang, dimulai dari diri saya, untuk berubah dan menjadi lebih baik. Mungkin tidak dapat langsung menyelesaikan masalah ini, namun bisa mengubah diri saya menjadi pribadi yang dewasa dan lebih bijaksana dalam menanggapi suatu masalah. Dan ketika 176 orang yang lainnya memutuskan hal yang sama, tak ada hal yang tak bisa kita lakukan.
  
"Friend is someone you can trust and admits you whatever you are" 

0 comments:

Post a Comment